N U S A P I C T U R E S

Loading

Informasi

Artikel

Wong Jowo Ilang Jowone? Antara Identitas, Agama, dan Hilangnya Kebijaksanaan


Kudus, Nusa Pictures indonesia -

Perubahan wajah Indonesia pasca reformasi 1998 memang tidak bisa dipungkiri. Ruang publik menjadi jauh lebih religius dibandingkan masa-masa sebelumnya. Simbol-simbol agama tampil semakin dominan di berbagai lapisan masyarakat, dari sekolah, kantor, pasar, hingga pusat-pusat hiburan.

Fenomena ini menimbulkan beragam tanggapan. Sebagian besar sebagai pemandangan kebangkitan spiritual masyarakat. Sebagian lain justru merasa ada sesuatu yang perlahan memudar : akar budaya dan cara berpikir bangsa sendiri.

Pengungkapan “Wong Jowo ilang Jowone” kemudian sering muncul sebagai bentuk kegelisahan sosial. Bukan sekedar tentang pakaian, bahasa, atau tradisi, melainkan tentang hilangnya watak dasar orang Jawa yang dahulu dikenal tenang, bijaksana, toleran, dan mendalam dalam memahami kehidupan.

Namun pertanyaannya, benarkah orang Jawa kehilangan Jawanya?

Sejarah justru menunjukkan bahwa budaya Jawa sejak dahulu selalu mampu menyerap pengaruh luar tanpa kehilangan ruhnya. Dari Hindu-Buddha, Islam, hingga modernitas Barat, semuanya pernah datang dan berinteraksi dengan tanah Jawa.

Dari proses panjang itu lahirlah peradaban unik : wayang, gamelan, tembang, sekaten, hingga ajaran-ajaran luhur para wali.

Jawa bukan budaya yang kaku. Jawa adalah kemampuan mengolah pengaruh luar menjadi kebijaksanaan lokal.

Masalah yang muncul hari ini mungkin bukan soal agama atau budaya semata, melainkan hilangnya kedalaman berpikir. Simbol sering kali lebih diutamakan daripada akhlak. Tampilan lebih dipentingkan daripada kejujuran. Agama kadang dijadikan identitas sosial, bahkan alat politik, bukan lagi sarana memperhalus budi pekerti.

Ironisnya, di tengah meningkatnya simbol-simbol keagamaan, berbagai persoalan sosial tetap marak terjadi : korupsi, fitnah, kekerasan verbal, hingga krisis empati di tengah masyarakat.

Di sisi lain, menyalahkan agama sebagai sumber kerusakan juga bukan jalan bijak. Dalam sejarah Nusantara, agama justru pernah menjadi sumber ilmu pengetahuan, etika, seni, dan peradaban.

Para wali di tanah Jawa tidak menghapus budaya lokal, tetapi mengolahnya menjadi media dakwah yang lembut dan membumi. Oleh karena itu, permasalahan utamanya bukan pada agama atau budaya, melainkan pada cara manusia memahaminya.

Bangsa ini mungkin tidak sedang kehilangan agama, juga tidak sepenuhnya kehilangan budaya. Yang mulai memudar justru kemampuan menyeimbangkan dengan kecerdasan — kemampuan untuk berpikir sehat, menghargai warisan nenek moyang, sekaligus terbuka terhadap perkembangan zaman.

Orang Jawa dahulu memiliki falsafah: “Ngeli nanging ora keli.” mengikuti arus zaman, tetapi tidak hanyut olehnya. Barangkali di situlah letak kebijaksanaan yang hari ini perlu dihidupkan kembali.