N U S A P I C T U R E S

Loading

Informasi

Artikel

Air Mata Seekor Tikus


Di sebuah pinggir kolam, saya pernah mengalami peristiwa yang hingga hari ini masih saya ingat dengan jelas. Saat itu saya sedang buang air kecil. Tidak jauh dari tempat saya berdiri, di atas dahan bambu yang rimbun, seekor tikus bertengger sambil memandang ke arah saya. Entah mengapa, saya merasa terganggu. Tikus itu tidak lari, tidak bersembunyi, bahkan tetap menatap ke arah saya. Karena kesal dan merasa diperhatikan, saya mengambil sebongkah bata lalu melemparkannya ke arah tikus tersebut. Lemparan itu mengenai sasaran. Namun yang terjadi setelahnya benar-benar di luar dugaan saya. Tikus itu tidak langsung kabur. Ia tetap diam di atas dahan bambu. Matanya terus menatap ke arah saya.

Beberapa saat kemudian, saya melihat sesuatu yang membuat hati saya bergetar. Dari kedua matanya tampak air yang menetes jatuh ke permukaan kolam di bawahnya. Saya terdiam. Untuk beberapa saat, saya dan tikus itu saling memandang. Tidak ada kata-kata yang terucap. Namun dalam hati saya seolah terjadi percakapan yang sulit dijelaskan. Tiba-tiba saya merasa bahwa sayalah yang bersalah. Saya merasa telah berbuat zalim kepada makhluk yang tidak melakukan apa-apa selain berada di tempat itu.

Rasa kesal yang sebelumnya memenuhi pikiran perlahan berubah menjadi penyesalan. Dengan tulus saya meminta maaf kepada tikus tersebut. Anehnya, setelah saya mengucapkan permintaan maaf itu, tikus tersebut perlahan beranjak pergi. Ia meninggalkan dahan bambu tempatnya bertengger, seolah memahami apa yang saya rasakan. Saya memandang kepergiannya sampai menghilang dari pandangan. Setelah itu, saya pun meninggalkan tempat tersebut.

Belakangan saya mengetahui bahwa seluruh kejadian itu ternyata diam-diam diperhatikan oleh seorang tetangga laki-laki dari kejauhan. Mungkin baginya pemandangan itu terasa aneh : seorang manusia yang sedang meminta maaf kepada seekor tikus. Tetapi bagi saya, peristiwa itu merupakan pelajaran hidup yang sangat berharga. Saya tidak tahu bagaimana orang lain akan menilai kisah ini. Saya juga tidak tahu apakah tikus itu benar-benar menangis atau tidak. Yang saya tahu, kejadian tersebut telah meninggalkan bekas yang mendalam dalam hati saya.

Sejak hari itu, saya tidak lagi tega menyakiti binatang tanpa alasan yang benar. Saya mulai memandang mereka sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan yang juga memiliki rasa takut, rasa sakit, dan keinginan untuk hidup.

Barangkali sebagian orang akan menganggap kisah ini sepele. Namun bagi saya, seekor tikus di atas dahan bambu pernah mengajarkan sesuatu yang besar : bahwa belas kasih tidak hanya ditunjukkan kepada sesama manusia, melainkan juga kepada makhluk-makhluk kecil yang hidup bersama kita di dunia ini.

Dan mungkin, pada hari itu, yang paling banyak belajar bukanlah tikus yang terkena lemparan bata. Melainkan saya sendiri.

(Nusa Pictures Indonesia)