Loading

KUDUS – Di tengah derasnya arus modernisasi dan budaya digital, tradisi Berjanjenan ternyata masih bertahan di berbagai kampung di Kabupaten Kudus.
Tradisi ini biasanya hadir dalam acara khitanan, pernikahan, syukuran, hingga peringatan keagamaan masyarakat.
Malam itu, suara rebana hadroh dipadukan dengan lantunan Sholawat Al-Barzanji yang dibaca para remaja kampung.
Di bawah tenda sederhana, masyarakat berdiri khidmat mengikuti jalannya acara. Suasana hangat, guyub, dan penuh adab masih terasa hidup di tengah masyarakat akar rumput.
Berjanjenan bukan sekedar membaca sholawat. Tradisi ini merupakan bagian dari budaya dakwah Islam Nusantara yang telah hidup turun-temurun di tengah masyarakat Jawa.
Dari generasi ke generasi, tradisi ini menjadi media pendidikan akhlak, perekat sosial, sekaligus sarana syiar keagamaan yang membumi.
Yang menarik, pelaku utama dalam kegiatan tersebut justru para remaja setempat. Mereka memainkan alat hadroh, membaca maulid, serta ikut menjaga keberlangsungan budaya kampung yang mulai jarang disentuh generasi muda perkotaan.
Di masa ketika banyak anak muda lebih akrab dengan hiburan digital dibandingkan tradisi lokal, keberadaan kelompok Berjanjenan menjadi bukti bahwa nilai-nilai sosial dan spiritual masyarakat belum sepenuhnya hilang.
Budaya seperti ini patut dijaga bersama. Alasan yang diwariskan leluhur bukan hanya teks sholawat, tetapi juga adab berkumpul, penghormatan kepada tamu, semangat gotong royong, serta cara berdakwah yang lembut dan dekat dengan masyarakat.
Berjanjenan juga menjadi salah satu bukti bahwa dakwah Islam di tanah Jawa tumbuh melalui pendekatan budaya, bukan dengan memutus tradisi masyarakat kasar.
Dari kampung-kampung sederhana seperti inilah identitas Islam Nusantara yang tetap hidup hingga hari ini.
“Peradaban kadang tidak lahir di gedung besar. Ia tetap menyala di bawah tenda sederhana, diiringi rebana, sholawat, dan doa-doa orang kampung.”
NUSA Pictures Indonesia
Dok. Tim kreatif Nusa Pictures Indonesia