Loading

Kemunculan komunitas bernama “Yakuza Maneges” belakangan menjadi perhatian publik dan ramai diperbincangkan di media sosial. Nama yang terdengar identik dengan kelompok mafia Jepang itu menarik rasa penasaran masyarakat.
Namun dibalik nama unik tersebut, tersimpan gerakan dakwah sosial yang justru mengusung semangat perubahan dan pembinaan moral.
Komunitas ini digagas oleh Gus Thuba Topo Broto Maneges dari Kediri, Jawa Timur.
Pendekatan yang digunakan terbilang tidak biasa. Mereka merangkul kalangan yang sering dipandang sebelah mata oleh masyarakat, mulai dari mantan preman, anak jalanan, hingga orang-orang yang pernah hidup di lingkungan keras dan ingin berubah menjadi lebih baik.
Nama “Yakuza” sendiri tidak digunakan dalam makna kriminal sebagaimana organisasi mafia di Jepang.
Dalam komunitas ini, istilah tersebut diartikan sebagai akronim dari: “Yang Awalnya Kotor Ujungnya Zuhud Abadi.”
Sedangkan “Maneges” disebut memiliki makna kejernihan dan kebersihan hati.
Dari filosofi itu, Yakuza Maneges mencoba menghadirkan ruang pelatihan bagi masyarakat pinggiran yang ingin berhijrah tanpa merasa dihakimi.
Pendekatan dakwah seperti ini sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah dakwah Nusantara.
Banyak tokoh agama di masa lalu yang memilih turun langsung ke lingkungan masyarakat marginal, berbicara dengan bahasa yang mudah diterima, serta membangun kedekatan emosional sebelum memberikan pelatihan keagamaan.
Namun di era digital saat ini, strategi branding menjadi faktor yang sangat menentukan. Nama yang kontroversial dan visual yang nyentrik membuat Yakuza Maneges cepat dikenal masyarakat.
Sebagian besar masyarakat menilai langkah itu kreatif dan efektif untuk menarik perhatian generasi muda.
Meski begitu, tidak sedikit pula yang menganggap penggunaan nama “Yakuza” terlalu dekat dengan citra kekerasan dan kriminalitas dunia.
Terlepas dari pro dan kontra tersebut, kemunculan Yakuza Maneges menunjukkan bahwa pola dakwah di Indonesia terus berkembang mengikuti zaman.
Dakwah tidak lagi selalu tampil formal di atas mimbar, tetapi juga hadir melalui pendekatan sosial, komunitas, bahkan strategi komunikasi yang tidak biasa.
Fenomena ini sekaligus menjadi gambaran bahwa masyarakat saat ini lebih mudah tertarik pada gerakan yang memiliki identitas yang kuat, unik, dan dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari. Tinggal bagaimana sebuah komunitas mampu mengarahkan arah gerak dan nilai yang dibawanya agar tetap berada di jalur positif bagi masyarakat.
Penulis : Nusa Pictures Indonesia
Foto: Tangkapan layar