Loading

KUDUS - NUSA PICTURES INDONESIA
Wacana mengenai lokasi asli Keraton Demak kembali menjadi pembahasan hangat di kalangan pemerhati sejarah Islam Nusantara.
Salah satu pendapat yang mulai mengemuka adalah dugaan bahwa pemerintahan Kesultanan Demak kemungkinan besar tidak berada di lokasi yang kini dikenal sebagai Kota Demak.
Pendapat ini muncul dari pembacaan ulang terhadap struktur pemerintahan dan sistem sosial pada masa awal Kesultanan Demak, terutama berkaitan dengan posisi Sultan dan Imam Masjid Demak yang tampak berjalan dalam dua otoritas yang berbeda.
Menurut kajian yang berkembang, seluruh Sultan Demak seperti Raden Patah, Pati Unus, hingga Sultan Trenggono disebut tidak pernah menjadi imam tetap Masjid Demak. Jabatan imam justru dipegang oleh para ulama besar Walisongo dan tokoh agama tersendiri.
Daftar imam Masjid Demak yang banyak disebut dalam manuskrip serta tradisi lisan antara lain :
Sunan Bonang
Syekh Ibrahim Karangkemuning
Makhdum Sampang
Sunan Ngudung Syekh Sabil
Sunan Kudus
Hal ini dianggap menunjukkan adanya perbedaan fungsi antara penguasa negara dan otoritas agama.
Dalam konsep masyarakat Jawa masa itu, pola pembagian peran antara golongan ksatria dan brahmana masih sangat kuat mempengaruhi sistem pemerintahan.
Raja menjalankan tata negara, sementara ulama mengatur kehidupan spiritual dan keagamaan masyarakat.
Dari situ muncul pertanyaan besar: Jika pusat pemerintahan dan pusat otoritas agama memang dipisahkan, mungkinkah lokasi keraton sebenarnya tidak berada tepat di samping Masjid Demak seperti asumsi masyarakat hari ini?
Alastuwo Semarang Mulai Disebut
Salah satu lokasi yang mulai diperbincangkan adalah kawasan Alastuwo di Semarang. Wilayah ini dinilai memiliki sejumlah petunjuk geografis maupun jejak penamaan kuno yang dianggap berkaitan dengan jaringan pelabuhan dan jalur perdagangan era Demak.
Beberapa pemerhati sejarah menilai kawasan pesisir barat Selat Muria kemungkinan jauh lebih aktif dibandingkan dugaan umum saat ini.
Bahkan, peta ulang jalur Selat Muria berpotensi membuka fakta baru bahwa pengaruh Demak meluas hingga wilayah pesisir Semarang.

Nama-nama kampung seperti Blambangan dan Sedayu di sekitar kawasan tersebut juga mulai dikaji ulang karena dianggap memiliki pola penamaan khas daerah pelabuhan kuno.
Meski demikian, hingga saat ini pendapat tersebut masih berada dalam tahap hipotesis dan eksplorasi awal. Belum terdapat bukti arkeologis final yang dapat memastikan lokasi pasti Keraton Demak secara mutlak.
Keraton Demak Disebut Pernah Diruntuhkan
Kajian lain juga menyebutkan bahwa bangunan Keraton Demak kemungkinan besar telah hancur pada masa konflik Arya Penangsang.
Disebutkan bahwa sebagian besar struktur keraton menggunakan bata merah dengan konstruksi atas berbahan kayu, sehingga mudah diruntuhkan dan sulit meninggalkan jejak permanen.
Hal inilah yang diduga menjadi salah satu alasan mengapa keberadaan pemerintahan Demak hingga kini masih menyimpan banyak misteri.
Hubungan Ulama Demak dan Walisongo
Di sisi lain, hubungan erat antara jaringan ulama Demak juga tampak dari jalur keluarga dan pernikahan antar tokoh Walisongo.
Dalam sejumlah manuskrip tersebut bahwa Sunan Kudus memiliki hubungan keluarga dengan Sunan Ampel melalui jalur Nyai Ageng Manyuran dan Dewi Ruhil putri Sunan Bonang.

Hubungan ini menampilkan bahwa struktur keagamaan Demak bukan sekedar lembaga spiritual, melainkan jaringan besar keluarga ulama yang saling terhubung.
Bahkan posisi Imam Masjid Demak seakan diwariskan melalui mata rantai keilmuan, perjuangan,hubungan keluarga antartokoh Walisongo.
Kajian mengenai lokasi asli Keraton Demak diperkirakan masih akan terus berkembang. Ekspedisi pemetaan jalur Selat Muria dan wilayah pesisir utara Jawa disebut akan kembali dilakukan dalam waktu mendatang untuk mencari kemungkinan jejak baru yang selama ini belum terungkap.
Wallahu a'lam bish shawab.
Dok. Tim Kreatif Nusa Pictures Indonesia & Tangkapan layar publik