N U S A P I C T U R E S

Loading

Informasi

Artikel

Majapahit, Aceh, dan Maulana Ibrahim Membaca kemungkinan Diplomasi Islam di Tengah Ekspansi Majapahit


Gelombang ekspansi

Kampanye ekspansi Majapahit pada masa pemerintahan Hayam Wuruk dan kepemimpinan Gajah Mada masih menjadi bahan diskusi panjang para pemerhati sejarah Nusantara. Salah satu wilayah yang sering disebut dalam pembahasan itu adalah wilayah Sumatera bagian utara, termasuk Aceh dan Pasai.

Di dalam Negarakertagama, sejumlah wilayah luar Jawa memang tercatat berada dalam jangkauan pengaruh Majapahit.

Namun hingga hari ini, para peneliti masih berbeda pendapat: apakah itu sekadar pengaruh politik dan dagang, atau benar-benar penaklukan militer dalam skala besar.

Menariknya, di tengah pembahasan ekspansi Majapahit itu, muncul sebuah diskusi lain yang tidak kalah pentingnya: kemungkinan adanya peran diplomat tokoh Islam dalam menyelesaikan konflik antara Majapahit dan komunitas muslim Nusantara.

Salah satu tokoh yang menjadi sorotan adalah Malik Ibrahim atau Maulana Ibrahim.

Berdasarkan pembacaan manuskrip Jawa oleh pemerhati sejarah Majapahit, disebutkan bahwa Maulana Ibrahim datang dari seberang dan menetap di Gresik.

Dalam manuskrip tersebut juga dijelaskan bahwa ia menghadap Raja Majapahit dan memperoleh kedudukan penting sebagai syahbandar di Gresik, sekaligus diberi kewenangan menyebarkan agama Islam.


Keterangan manuskrip itu menampilkan satu hal penting: hubungan Majapahit dan tokoh Islam kemungkinan tidak mengibarkan narasi “permusuhan total” sebagaimana sering dijelaskan dalam cerita populer.

Justru sebaliknya, terdapat kemungkinan adanya ruang diplomasi, toleransi politik, dan kerja sama perdagangan antara elite Majapahit dengan tokoh muslim di pesisir Jawa.

Dari situ muncul hipotesis yang menarik: pasca ekspansi Majapahit ke wilayah Sumatera, Maulana Ibrahim diduga memiliki peran dalam ketegangan lanjutan terhadap wilayah Islam di Aceh dan Pasai.

Hipotesis ini kemudian dikaitkan dengan keberadaan senotaph bercorak Pasai di Gresik yang selama ini sering dipahami secara sederhana sebagai penanda asal-usul tokoh tersebut.

Padahal, sebagian pemerhati sejarah menilai bentuk nisan bercorak Pasai belum tentu menunjukkan asal geografis. Bisa jadi itu merupakan simbol penghormatan, prestise dunia Islam pesisir, atau bentuk penghargaan atas jasa tertentu.

Tentu saja, kajian ini masih memerlukan penguatan dari berbagai sumber lain, mulai dari manuskrip pembanding, data arkeologi, kronik asing, hingga tradisi lisan masyarakat pesisir Nusantara.

Namun diskusi seperti ini penting untuk membuka sudut pandang baru bahwa sejarah Islam di Nusantara tidak selalu bergerak melalui peperangan, tetapi juga melalui jalur diplomasi, perdagangan, dan pendekatan budaya.

Bila hipotesis ini terus berkembang dan didukung sumber-sumber baru, maka Maulana Ibrahim dalam sejarah Nusantara bisa jadi jauh lebih besar: posisi bukan hanya sebagai penyebar agama, tetapi juga sebagai penengah peradaban di tengah gejolak politik abad ke-14.

Nusa Pictures Indonesia Artikel opini dan kajian sejarah Nusantara