Loading

Oleh: Abu Na'am Rasyid
Perdebatan tentang asal usul dan jalur nasab Wali Songo hingga hari ini masih terus berlangsung. Di satu sisi, ada kelompok yang menitikberatkan penelitian pada epigrafi nisan dan artefak arkeologi. Di sisi lain, ada jalur manuskrip nasab yang diwariskan secara turun-temurun melalui lembaga Naqobah Keluarga Auliya.
Polemik ini kembali menghangat ketika sebagian pegiat sejarah Islam Nusantara menolak data manuskrip dari Naqobah Ansab Auliya Tis'ah (NAAT) terkait jalur Syekh Jumadil Kubro dan Malik Ibrahim, dengan alasan data nisan dianggap lebih kuat secara akademik.
Namun, benarkah nisan selalu menjadi bukti paling mutlak?
Nisan Bukan Identitas Final Dalam kajian sejarah, nisan memang termasuk sumber primer penting. Akan tetapi, nisan tetaplah benda budaya yang tidak berdiri sendiri. Batu nisan bisa: rusak dimakan usia, dipindahkan, diganti generasi berikutnya, bahkan diperjualbelikan antarwilayah.
Hubungan perdagangan antara Jawa dan Kesultanan Samudera Pasai pada masa lampau menunjukkan adanya mobilitas barang budaya, termasuk batu nisan dan seni kaligrafi Islam.
Narasi populer yang selama ini berkembang sering menggambarkan bahwa budaya nisan Islam berasal dari Pasai menuju Jawa.
Namun logika itu layak dikaji ulang. Sebab Jawa kala itu bukan wilayah yang tertinggal dalam seni dan teknologi peradaban.
Peradaban yang mampu membangun Candi Borobudur dengan detail arsitektur luar biasa tentu memiliki kemampuan tinggi dalam seni pahat, tata simbol, hingga kaligrafi batu.
Artinya, sangat mungkin Jawa justru menjadi salah satu pusat keahlian pernisanan dan seni ukir Islam di Nusantara.
Manuskrip Nasab dan Tradisi Naqobah
Berbeda dengan pendekatan epigrafi, NAAT menggunakan manuskrip nasab yang bersumber dari jalur Naqobah internasional asal leluhur Wali Songo.
Dalam tradisi Islam klasik, manuskrip nasab bukan sekedar catatan keluarga biasa. Ia dijaga melalui sanad, diwariskan lintas generasi, dan menjadi bagian penting identitas keilmuan serta dakwah.
Menurut data manuskrip tersebut, Malik Ibrahim berada di jalur Syekh Jamaluddin Al-Kabir bin Husen atau yang dikenal masyarakat sebagai Syekh Jumadil Kubro. Pendekatan ini tentu berbeda dengan sebagian narasi populer yang hanya berpatokan pada bentuk nisan dan asumsi arkeologis tertentu.
Sejarah Tidak Bisa Dibaca dari Satu Pintu
Masalah terbesar dalam memuat sejarah hari ini adalah kecenderungan yang menjadikan satu metode sebagai “kebenaran tunggal”. Padahal sejarah besar seperti Wali Songo tidak mungkin dipahami hanya dari: nisan semata, manuskrip semata, atau tradisi lisan semata. Semuanya harus dibaca secara utuh: manuskrip, epigrafi, arkeologi, tradisi lokal, hingga jaringan nasab dan migrasi ulama.
Oleh karena itu, menolak manuskrip hanya karena tidak sesuai dengan teori epigrafi juga tidak ilmiah. Begitu pula sebaliknya.
Menjaga Warisan Peradaban
Pembahasan tentang Wali Songo seharusnya tidak berubah menjadi pertarungan ego kelompok. Yang lebih penting adalah menjaga warisan peradaban Islam Nusantara dengan jujur, terbuka, dan bertanggung jawab.
Sebab sejarah bukan hanya tentang siapa yang paling benar. Tetapi tentang bagaimana generasi hari ini memahami bahwa Islam di Nusantara tumbuh melalui ilmu, budaya, dakwah, dan peradaban besar yang jejaknya masih hidup hingga sekarang.
Diterbitkan oleh : Nusa Pictures Indonesia.
Visual : Tim Kreatif Nusa Pictures Indonesia