Loading
Oleh: Abu Naam Rasyid
Pagi ini, pekerjaan membawa saya kembali mendekat kepada sejarah. Bersama Soko Advertising, saya melaksanakan pemasangan huruf 3D stainless gold di pintu masuk Pesarean Mbah H. Ahmad Siroj, Desa Undaan Kidul, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus.
Di sela pekerjaan ini, saya teringat kembali perjalanan hidup beliau yang pernah saya tuliskan. Nama yang sedang kami pasang menyimpan kisah panjang tentang pengajaran agama, perjuangan keluarga, bimbingan tarekat, serta kepedulian kepada masyarakat.
Bagi saya, mengerjakan penanda sebuah pesarean memiliki kesan tersendiri. Huruf-huruf itu membantu orang mengenali tempat yang dituju. Sementara kisah tokoh yang dimakamkan di dalamnya membantu kita memahami alasan sebuah nama terus dihormati lintas generasi.
Menurut catatan keluarga, KH. Ahmad Siroj lahir pada 24 Juli 1862. Beliau merupakan putra Kyai Abdul Karim, seorang ulama yang menjadi guru pertama bagi putranya sendiri.
Sejak kecil, Ahmad Siroj memperoleh pendidikan agama langsung dari sang ayah. Kehidupan di tengah kegiatan mengaji dan pendidikan santri menjadi lingkungan yang membentuk perjalanan beliau.
Pada 1880, ketika Ahmad Siroj berusia sekitar 18 tahun, ayahnya wafat. Pada usia yang masih muda itu, keberlanjutan pengajaran peninggalan sang ayah menjadi tanggung jawab besar bagi keluarga.
Dalam bahan riwayat yang saya himpun, catatan KH. Ahmad Fattah menyebut KH. Ahmad Siroj mulai mengajar santri pada 1297 Hijriah atau sekitar 1880 Masehi. Sementara penuturan keluarga KH. Shiddiq menyebut pengelolaan pesantren sempat dipercayakan kepada KH. Shiddiq ketika Ahmad Siroj memperdalam ilmu di pesantren-pesantren Jawa Timur.
Perbedaan rincian ini perlu tetap dicatat. Tahun mulai mengajar dan masa memegang kepengasuhan penuh belum tentu menunjuk tahap yang sama, tetapi hubungan keduanya masih memerlukan penelusuran lebih lanjut.
Menurut penuturan keluarga KH. Shiddiq, setelah beberapa tahun belajar di Jawa Timur, KH. Ahmad Siroj kembali ke Undaan Kidul. Pengelolaan pesantren kemudian diserahkan kepadanya. KH. Shiddiq bersama istrinya, Nyai Ruqoyah, selanjutnya berpindah ke Dukuh Grobog, Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, untuk melanjutkan pengabdian keagamaan di sana.
Dari lingkungan Undaan Kidul Gang 12 inilah KH. Ahmad Siroj meneruskan kegiatan mengajar dan membimbing masyarakat.
Dalam catatan silsilah keluarga, KH. Ahmad Siroj dihubungkan dengan keturunan Sunan Nyamplungan melalui jalur Mbah Ali al-Adim atau Panembahan Setono Agung.
Urutan dari Mbah Ali menuju KH. Ahmad Siroj dituliskan sebagai berikut: Mbah Ali berputra Jali Abdul Kholiq, kemudian Abdul Qodir, Abdul Qohhar, Abdus Shomad atau Kyai Alasjati di Gajah–Demak, Abdurrohman atau Raden Santri di Tongpait–Menawan–Grobogan, Kyai Nuruddin, Kyai Abdul Karim di Undaan Tengah, hingga KH. Ahmad Siroj di Undaan Kidul.
Adapun Sunan Nyamplungan, yang bernama Syekh Amir Hasan, dalam silsilah tersebut dicatat sebagai putra Sunan Kudus dengan Dewi Ruhil binti Sunan Bonang bin Sunan Ampel. Istri Sunan Nyamplungan disebut bernama Dewi Nasiki binti Sunan Muria bin Sunan Kalijaga.
Keterangan ini saya tempatkan sebagai catatan silsilah keluarga. Penyajiannya menjadi bagian dari upaya merawat riwayat leluhur sekaligus membuka ruang penelusuran dokumen dan hubungan antargenerasi secara lebih lengkap.
KH. Ahmad Siroj dikenang sebagai mursyid Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Riwayat keluarga menyebut KH. Muallim dari Ngrondon, wilayah Godong, Grobogan, sebagai guru yang memberikan talqin dan ijazah kemursyidan kepada beliau.
Pertemuan keduanya dikisahkan bermula dari mimpi KH. Muallim. Dalam mimpi itu, gurunya memerintahkan agar pakaian yang dikenakannya diserahkan kepada seorang bernama Ahmad Siroj di Kudus Selatan.
Menurut penuturan tersebut, KH. Muallim sebelumnya belum mengenal orang yang harus ditemuinya. Beliau kemudian melakukan perjalanan pencarian, melewati Babalan dan Glagahwaru, hingga akhirnya menemukan KH. Ahmad Siroj di Undaan Kidul.
Pertemuan itu dilanjutkan dengan pemberian talqin dan ijazah kemursyidan selama tiga hari tiga malam.
Kisah tersebut diwariskan sebagai bagian dari perjalanan spiritual KH. Ahmad Siroj. Adapun rincian tanggal pemberian ijazah masih perlu dicocokkan kembali dengan catatan asli karena terdapat ketidaksesuaian penulisan dalam bahan riwayat.
Di antara kisah tentang KH. Ahmad Siroj, saya selalu tertarik kepada keteladanan beliau dalam memperhatikan kehidupan orang kecil.
Beliau dikenang suka menyantuni fakir miskin, anak yatim, janda lanjut usia, serta orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Dalam urusan membeli barang, beliau dituturkan tidak biasa menawar dan tidak meminta uang kembalian.
Ada pula kisah ketika beliau memborong gayung berbahan kaleng bekas dari seorang pedagang yang sejak pagi belum memperoleh pembeli. Gayung-gayung itu dibeli meskipun beliau sendiri tidak membutuhkannya.
Cerita sederhana tersebut menyimpan pelajaran yang dekat dengan kehidupan kita. Ada orang yang membutuhkan sedekah, ada pula yang sedang berjuang mempertahankan penghidupan melalui dagangannya. Membeli barang dagangannya dapat menjadi cara menolong sekaligus menghargai usahanya.
Sebagai orang yang juga bekerja dan berdagang, bagian ini terasa dekat bagi saya. Nilai sebuah transaksi kadang melampaui harga barang: di dalamnya ada kesempatan membantu dapur orang lain tetap menyala.
Riwayat masyarakat juga menyimpan cerita mengenai perlindungan KH. Ahmad Siroj kepada pejuang yang dikejar pasukan Belanda.
Dikisahkan, sejumlah pejuang yang mulai kekurangan bekal berlindung di rumah beliau. Makanan dan minuman disediakan, sementara warga sekitar turut membantu sesuai kemampuan.
Ketika persembunyian mereka terancam diketahui, KH. Ahmad Siroj mempersilakan para pejuang berlindung di belakang rumah. Beliau kemudian keluar sambil mencabut rumput dan berdoa bagi keselamatan mereka.
Dalam bahan riwayat terdapat pula kisah pasukan Hizbullah yang berlindung di rumah Nyai Hajjah Raki, ibu KH. Mastiko, di Undaan Kidul Gang 10. Rumah tersebut disebut menjadi sasaran tembakan Belanda.
Keduanya perlu dipelihara sebagai penuturan yang berbeda sampai hubungan peristiwanya dapat dipastikan. Riwayat-riwayat ini menjadi pintu masuk untuk menelusuri lebih jauh peran ulama, keluarga, dan masyarakat Undaan Kidul pada masa perjuangan.
Dalam tradisi keluarga, KH. Ahmad Siroj juga dikenang melalui sejumlah kisah karamah. Di antaranya adalah perjumpaan dengan seorang anak misterius ketika dalam perjalanan menuju pesantren, serta kisah berziarah ke makam Sunan Muria bersama istri dan anaknya dalam waktu yang sangat singkat.
Kisah-kisah tersebut hidup dalam penuturan keluarga dan masyarakat, termasuk ketika haul diselenggarakan. Sebagai penulis, saya mencatatnya sebagai tradisi keagamaan yang diwariskan, dengan membedakannya dari keterangan yang dapat diperiksa melalui dokumen sejarah.
Di balik berbagai kisah itu, keteladanan yang paling mudah kita teruskan adalah kesungguhan belajar, ketekunan mengajar, kesederhanaan hidup, dan kepedulian kepada sesama.
Menurut catatan keluarga, KH. Ahmad Siroj wafat pada 1955 dalam usia sekitar 93 tahun. Beliau dimakamkan di kompleks makam keluarga, di sebelah barat Masjid Jami As-Salikin, Undaan Kidul Gang 12, Kudus.
Pagi ini, melalui pekerjaan pemasangan huruf di pintu masuk pesarean beliau, saya kembali diingatkan bahwa setiap pekerjaan dapat mempertemukan kita dengan pelajaran kehidupan.
Soko Advertising mendapat kesempatan mengerjakan penanda tempatnya. Adapun merawat kisah dan keteladanan beliau merupakan pekerjaan bersama yang perlu terus dilanjutkan.
Semoga nama yang terpasang membantu para peziarah menemukan tujuan, dan kisah yang dituliskan membantu kita menemukan pelajaran.
Catatan: Tulisan ini bersumber dari bahan riwayat yang dihimpun penulis, meliputi catatan keluarga, kutipan catatan KH. Ahmad Fattah, serta penuturan keluarga dan masyarakat. Silsilah nasab merujuk pada data NAAT Nasional yang telah diverifikasi oleh Naqobah Sadatil Asyrof Internasional Maroko. Kisah spiritual dan karamah disajikan sebagai bagian dari riwayat yang diwariskan dalam keluarga dan masyarakat.