Loading
Oleh: Redaksi Nusa Pictures Indonesia (NPI)
Kategori: Sejarah Nusantara
Sebuah poster litografi berwarna yang diterbitkan di Batavia pada 1923 menyimpan jejak sejarah yang menarik. Poster tersebut menampilkan potret Ratu Wilhelmina dari Belanda, dikelilingi ornamen berwarna merah, putih, biru, dan oranye. Pada bagian bawahnya tercetak syair berbahasa Melayu menggunakan aksara Arab-Melayu atau Jawi.
Poster itu dibuat untuk memperingati 25 tahun pemerintahan Ratu Wilhelmina, yang naik takhta pada 1898. Di balik tampilannya yang artistik, poster tersebut memperlihatkan bagaimana bahasa Melayu, tradisi penulisan Jawi, dan teknologi percetakan digunakan untuk menyampaikan pesan politik serta penghormatan kepada monarki kolonial.
Keberadaan dokumen ini dibahas oleh Nico J. G. Kaptein, akademisi kajian Islam Asia Tenggara dari Universitas Leiden, dalam tulisannya The Arabs in the Netherlands East Indies and the House of Orange, yang diterbitkan pada 2010.
Menurut kajian Kaptein, poster tersebut tersimpan dalam koleksi Oriental Universitas Leiden, Belanda, dengan nomor arsip Plano F 53 no. 48. Dokumen itu berasal dari Koleksi Schrieke, yang berkaitan dengan Bertram Johannes Otto Schrieke (1890–1945).
Poster berukuran sekitar 43 × 34 sentimeter itu diproduksi oleh Steendrukkerij S. Jahja, Tanah Abang, Weltevreden, dengan harga tercetak 15 sen.
Teknik litografi memungkinkan penerbit menghadirkan kombinasi warna yang beragam. Potret Wilhelmina ditempatkan pada bagian atas, sedangkan bagian bawah memuat syair dalam aksara Jawi. Perpaduan ilustrasi, tipografi, warna, dan puisi menunjukkan bahwa percetakan pada masa itu tidak hanya berfungsi menyebarkan buku, tetapi juga menghasilkan bahan peringatan dan media komunikasi publik.
Dokumen tersebut menjadi sumber sejarah yang berharga karena memperlihatkan bentuk nyata produksi budaya cetak di Batavia pada awal abad ke-20.
Syair pada poster disusun dalam pola akrostik. Huruf-huruf awal larik membentuk dua rangkaian kata, yaitu “Dua Puluh” dan “Wilhelmina”. Susunan tersebut sekaligus menjadi penanda tema peringatan 25 tahun pemerintahan sang ratu.
Berikut transliterasi Latin yang diterbitkan dalam kajian Nico J. G. Kaptein. Ejaan Melayu lama dipertahankan mengikuti sumber tersebut.
Bagian pertama
Dua puluh tahun telah bersuda
Wahai dawlatku seri baginda
Peliharkanlah hai tuanku
Warisannya kerajaan dengan berlaku
Lanjutkan tuanku iah punya umur
Hindia Nederland biarlah subur
Lantaran penggawa yang bersetia
Yang berbuat baik dapat bahagia
Marilah rakyat tua dan muda
Alamat penutup apa yang ada
Bagian kedua
Waris dan subur kerajaan Hulanda
Yang dipertuan sepenuhnya dada
Lama dan selamat iah memangku
Hakim yang adil menurut buku
Alirkan afiyat badan sekujur
Lagi tahta kerajaan bertambah makmur
Manis dan pahit ada sedia
Yaqin yang jahat dapat bahaya
Narimakan selamat bagi baginda
Iduplah kekal kerajaan Belanda
Syair tersebut berisi harapan agar pemerintahan sang ratu berlangsung panjang, negeri berada dalam keadaan makmur, kesehatan terpelihara, serta keadilan dan ketertiban dapat dijalankan.
Sebagai teks sejarah, syair ini perlu dibaca sesuai konteks pembuatannya. Ia merupakan ekspresi penghormatan terhadap monarki Belanda pada masa kolonial, bukan gambaran yang dengan sendirinya mewakili pandangan seluruh penduduk Nusantara.
Pemilihan bahasa Melayu dengan aksara Jawi merupakan salah satu aspek penting dokumen ini.
Bahasa Melayu telah lama menjadi bahasa komunikasi lintas wilayah di Nusantara. Sementara itu, aksara Jawi memiliki sejarah panjang dalam penulisan keagamaan, kesusastraan, surat-menyurat, dan penerbitan di lingkungan masyarakat Muslim.
Dalam kajiannya, Kaptein menilai bahwa penggunaan bahasa Melayu dan aksara Jawi memberikan petunjuk mengenai lingkungan pembaca yang dituju. Poster tersebut tidak semata-mata dibuat untuk pembaca berbahasa Belanda, melainkan juga untuk kalangan yang memahami bahasa Melayu dan tulisan Jawi.
Namun, identitas pembaca tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan bahasa yang digunakan. Penentuan kelompok pembaca yang sebenarnya membutuhkan dukungan bukti lain, seperti catatan distribusi, iklan, surat-menyurat, atau keterangan penerbit.
Hal yang jelas, poster tersebut memperlihatkan bahwa bahasa Melayu-Jawi masih digunakan dalam produk percetakan komersial pada 1923.
Kaptein menempatkan poster tersebut dalam pembahasan yang lebih luas mengenai keterlibatan komunitas Arab di Hindia Belanda dalam peringatan kerajaan Belanda.
Poster itu merupakan salah satu dari dua dokumen yang dibahasnya. Dokumen kedua berupa doa berbahasa Arab yang diterbitkan untuk peristiwa peringatan yang sama.
Kedua dokumen tersebut berkaitan dengan Habib Yahya ibn Utsman, putra ulama Habib Utsman bin Abdullah bin Aqil bin Yahya (1822–1914). Habib Yahya menerbitkan dokumen-dokumen itu pada 1923.
Menurut pembahasan Kaptein, Habib Utsman sebelumnya menyusun doa untuk peristiwa naik takhtanya Wilhelmina pada 1898. Doa tersebut kemudian diterbitkan kembali dengan penyesuaian untuk peringatan 25 tahun pemerintahan sang ratu.
Kehadiran dua dokumen ini menunjukkan adanya ekspresi loyalitas terhadap kerajaan Belanda di kalangan tertentu dalam masyarakat kolonial. Akan tetapi, dokumen tersebut tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa seluruh komunitas Arab, umat Islam, atau penduduk pribumi memiliki sikap politik yang sama.
Kaptein juga menyoroti pentingnya konteks sosial dan politik kolonial dalam memahami ekspresi loyalitas tersebut. Karena itu, dokumen harus dibaca sebagai bukti dari lingkungan dan situasi tertentu, bukan sebagai representasi tunggal masyarakat Hindia Belanda.
Poster Syair Dua Puluh Lima Wilhelmina memiliki setidaknya empat nilai penting bagi penelitian sejarah.
Pertama, sebagai sumber sejarah percetakan. Nama penerbit, lokasi produksi, harga, ukuran, dan teknik litografi memberikan informasi konkret mengenai kegiatan percetakan di Batavia pada 1923.
Kedua, sebagai sumber sejarah bahasa. Teks Melayu beraksara Jawi memperlihatkan penggunaan bahasa dan sistem tulisan yang berkembang dalam masyarakat Nusantara.
Ketiga, sebagai sumber sejarah kesusastraan. Pola akrostik, rima, dan susunan lariknya menunjukkan bagaimana bentuk syair dapat digunakan untuk menyampaikan pesan peringatan kerajaan.
Keempat, sebagai sumber sejarah sosial-politik. Isi syair dan konteks penerbitannya memberikan bahan untuk mengkaji hubungan antara masyarakat, media cetak, dan kekuasaan kolonial.
Meskipun demikian, penelitian terhadap poster tersebut tetap memerlukan kehati-hatian. Transliterasi Latin yang telah diterbitkan perlu dibedakan dari pembacaan langsung terhadap setiap huruf Jawi pada benda aslinya. Untuk menghasilkan edisi kritis, peneliti dapat mencocokkan teks Latin dengan citra beresolusi tinggi dari poster, memeriksa ejaan, serta menelaah kemungkinan variasi pembacaan.
Pendekatan tersebut penting agar dokumentasi sejarah tidak hanya mengandalkan salinan atau kutipan yang beredar, tetapi juga mempertimbangkan kondisi dan karakter sumber primer.
Syair Dua Puluh Lima Wilhelmina bukan sekadar puisi peringatan kerajaan. Poster yang diterbitkan di Batavia pada 1923 itu merupakan artefak sejarah yang mempertemukan sastra Melayu-Jawi, seni litografi, kegiatan penerbitan, dan dinamika politik Hindia Belanda.
Melalui penelitian akademik dan penelusuran arsip, dokumen semacam ini dapat membantu memperluas pemahaman tentang kehidupan masyarakat Nusantara pada awal abad ke-20.
Bagi Nusa Pictures Indonesia, pelestarian dan pengkajian dokumen sejarah merupakan bagian dari upaya menghadirkan informasi masa lalu berdasarkan sumber yang dapat diperiksa. Setiap artefak perlu ditempatkan dalam konteksnya, dibaca secara kritis, dan dibedakan antara apa yang benar-benar tercatat dalam sumber dengan penafsiran yang dikembangkan oleh peneliti.
Sejarah tidak cukup hanya diceritakan; sumbernya perlu diperiksa, konteksnya perlu dipahami, dan kesimpulannya perlu dipertanggungjawabkan.
1. Sumber primer: poster litografi tahun 1923
Judul deskriptif: Syair Dua Puluh Lima Wilhelmina.
Penerbit: Steendrukkerij S. Jahja.
Lokasi penerbitan: Tanah Abang, Weltevreden, Batavia.
Tahun: 1923.
Ukuran: sekitar 43 × 34 cm.
Harga yang tercantum: 15 sen.
Lokasi penyimpanan yang dirujuk dalam kajian: koleksi Oriental Universitas Leiden, Belanda.
Nomor arsip: Plano F 53 no. 48.
Asal koleksi: Koleksi Schrieke.
2. Kajian akademik utama
Kaptein, Nico J. G. “The Arabs in the Netherlands East Indies and the House of Orange.” Dalam Robert M. Kerr dan Thomas Milo (eds.), Writings and Writing from Another World and Another Era: Investigations in Islamic Text and Script in Honour of Dr Januarius Justus Witkam. Cambridge: Archetype, 2010, hlm. 213–227.
3. Artikel yang memuat terjemahan kajian dan transliterasi syair
Kaptein, Nico J. G. “Kaum Arab di Hindia Belanda dan Istana Oranye.” Pisarana Hatusiri Amalatu, 21 Agustus 2020.
Tautan: https://negerisaparua.blogspot.com/2020/08/kaum-arab-di-hindia-belanda-dan-istana.html
Artikel tersebut memuat uraian mengenai poster, transliterasi syair Melayu-Jawi, konteks penerbitan, dan pembahasan akademik mengenai komunitas Arab di Hindia Belanda.
Catatan editorial: Transliterasi syair dalam artikel ini mengikuti versi Latin yang dimuat dalam kajian Kaptein melalui artikel terjemahannya. Pembacaan ulang langsung terhadap seluruh huruf Jawi pada citra arsip asli belum dilakukan secara independen oleh redaksi.
Kata kunci: Syair Wilhelmina, sejarah Melayu-Jawi, litografi Batavia, sejarah percetakan Indonesia, Hindia Belanda, Nico J. G. Kaptein, arsip Universitas Leiden, sejarah Nusantara.