Loading
Menuturkan kembali kisah Muria, Pucangsula, dan asal-usul Getas Pejaten dalam naskah Mbah Guru
Oleh Abu Naam Rasyid
Duduklah sebentar, Nak. Ada sebuah cerita tentang tanah yang barangkali pernah kaulewati tanpa banyak bertanya. Tentang Kudus, Pati, Juwana, juga desa-desa yang namanya masih kita dengar sampai sekarang.
Cerita ini Bapak baca dalam tulisan berbahasa Jawa berjudul Sejarah Kawitane Wong Jawa lan Wong Kanung. Nama penyusunnya tertulis Mbah Guru. Salinannya dimuat di situs Alang-alang Kumitir.
Dengarkan dahulu ceritanya. Kelak, kalau ada bagian yang membuatmu penasaran, bukalah peta, bacalah buku, dan tanyakan kepada orang yang mengerti. Begitulah kita merawat peninggalan cerita: menyimaknya dengan hormat, lalu mempelajarinya dengan pikiran terbuka.
Dalam naskah itu dikisahkan bahwa pada tahun 471 Masehi, Gunung Maura—yang kita kenal sebagai Gunung Muria—meletus.
Bayangkan sebuah gunung besar yang menghadap perairan luas. Dalam cerita tersebut, bagian tenggara pegunungannya terputus, lalu terpisah menjadi Gunung Patiayam. Bibir kawahnya jebol. Material letusan mengalir ke selatan, menimbun perairan yang disebut Selat Maura.
Perlahan, demikian kisahnya, wilayah yang semula berupa laut berubah menjadi daratan Kudus, Pati, dan Juwana. Air masih tertinggal di tempat-tempat rendah, membentuk rawa luas di Undaan dan aliran yang disebut Bengawan Silugangga.
“Jadi, tempat rumah-rumah itu dahulu air semua, Pak?”
Begitulah gambaran yang disampaikan naskah ini, Nak. Tahun dan urutan kejadiannya masih perlu diperiksa melalui penelitian. Tetapi coba kauperhatikan: cerita ini mengajak kita membayangkan bahwa wajah bumi pernah berbeda dari yang kita lihat sekarang.
Tanah yang hari ini keras di bawah kakimu mungkin menyimpan riwayat air, endapan, dan kehidupan yang panjang.
Letusan itu, menurut kisah tersebut, juga mendorong gelombang besar ke arah timur. Gelombang menerjang tebing-tebing Pegunungan Ngargapura, sementara jangkauannya diceritakan meluas ke barat hingga Kayen.
Ketika air berbalik, lereng-lereng tergerus. Tebing runtuh. Tanah dan batu menimbun Teluk Kendeng. Naskah itu menghubungkan kejadian tersebut dengan terbentuknya dataran Kayen, Jakenan, Kaliori, Rembang, Sulang, Lasem, dan Pamotan.
Nama-namanya akrab, bukan? Namun, dalam cerita ini, semuanya ditempatkan dalam sebuah bentang alam yang sedang berubah dengan dahsyat.
Di sebelah barat Gunung Ngargapura terdapat wilayah bernama Argasoka. Di sanalah cerita ini membawa kita kepada Pucangsula.
Longsoran gunung dikisahkan menekan wilayah tersebut. Tanah terbalik dan menimbun perkampungan, ladang, serta persawahan. Tempat orang menanam harapan itu mendadak tertutup bumi.
Naskah menyebut wilayah bekasnya kini berkaitan dengan Ngendhen, Lagadhing, Sendangsari, Topar, Klindon, dan Warugunung.
Nasib keratonnya lebih memilukan. Keraton Pucangsula Endriya pra Astha dikisahkan terseret arus balik gelombang menuju cekungan Teluk Juwana. Rumah, candi, kedaton, dan bangunan lainnya tenggelam.
Coba bayangkan orang-orang yang harus meninggalkan kampungnya, Nak. Mereka mungkin hanya sempat membawa apa yang dapat dijangkau tangan. Sementara di belakang mereka tertinggal rumah, kebun, tempat berdoa, dan kenangan keluarga.
Membaca cerita bencana, kita mudah terpaku pada gunung dan gelombangnya. Padahal, ada manusia yang kehilangan tempat pulang.
Menurut naskah itu, yang masih tersisa ialah Punden Tapa’an, tempat penyimpanan abu jenazah para leluhur Panembahan Kanung. Disebut pula gua-gua bekas pertapaan, arca Lembu Nandi, Ganapati, lingga, dan pecahan altar pemujaan.
Naskah juga mengaitkan kerusakan sebagian peninggalan dengan pembangunan jalan raya pada masa Daendels, tahun 1809–1810. Pada bagian itu tertulis nama VOC. Penyebutan pelaku dan urutan waktunya merupakan salah satu hal yang perlu diperiksa lagi sebelum dipakai sebagai keterangan sejarah yang pasti.
Begitulah, Nak. Dalam sebuah tulisan lama pun, kita boleh bertanya dengan sopan.
Setelah bencana, Argasoka diceritakan menjadi sunyi.
Tanah yang dahulu dihuni orang perlahan ditumbuhi semak. Jalan setapak menghilang. Pepohonan merapat. Orang-orang kemudian menjauhinya karena mendengar bahwa tempat itu angker, dihuni makhluk halus, dan berbahaya untuk didatangi.
Kadang, ketika sebuah tempat lama tidak lagi dihuni, orang lebih mengenalnya melalui cerita ketakutan daripada riwayat penduduknya.
Tetapi kisah manusia Pucangsula tidak berhenti di sana.
Orang-orang Kanung yang tinggal di Ceriwik dan Pegunungan Sindawaya disebut masih selamat. Sebagian mengungsi ke lereng Gunung Butak di Pamotan, kemudian menyebar ke barat sampai sebelah timur Todanan. Di tempat baru, mereka dikisahkan memakai sebutan Wong Kanor.
Kelompok lain bergerak dari Todanan ke arah Sukolilo, juga menuju pulau-pulau di tengah rawa sekitar Kuthuk, Galiran, Kaliyasa, Ngelo, dan Karangrawa.
Naskah menyebut mereka Wong Sikeb, lalu menyamakannya dengan orang Samin. Hubungan asal-usul ini adalah penuturan naskah tersebut, Nak; untuk memahaminya lebih jauh, kita perlu mendengar pula sejarah dan penjelasan masyarakat yang bersangkutan.
Dalam kisah Mbah Guru, meskipun tempat tinggal dan sebutan mereka berubah, adat serta budi pekerti leluhur tetap dibawa.
Barangkali itulah bekal yang paling sukar dirampas dari seorang perantau: kebiasaan yang sudah tumbuh dalam dirinya. Cara memperlakukan tetangga, menghormati orang tua, bekerja, dan menjaga hubungan dengan sesama.
Naskah itu juga menggambarkan mereka sebagai kelompok yang mengikuti perintah penguasa dalam urusan agama, sementara keyakinan warisannya tetap bertahan. Ada ungkapan rubuh gedhang, obor blarak, untuk menggambarkan kepatuhan yang dianggap hanya tampak di luar dan tidak lama mengakar.
Keterangan semacam itu perlu kita baca sebagai pandangan penyusun. Kehidupan batin suatu masyarakat tentu lebih luas daripada beberapa kalimat tentang mereka.
Sekarang kita kembali ke lereng selatan Muria.
Menurut alur cerita tersebut, 149 tahun setelah letusan yang disebut terjadi pada 471 Masehi (620 Masehi), bentang perairannya belum seluruhnya hilang. Masih ada Selat Welahan, rawa besar Bengawan Silugangga, dan Teluk Juwana.
Daratan baru di selatan gunung telah ditumbuhi hutan jati. Di tepinya membentang rawa luas.
Tahun yang disebut berikutnya ialah 620 Masehi.
Orang-orang mulai merintis kehidupan di sana. Naskah menyebut para pendatang dari Negeri Keling yang dikaitkan dengan Dewi Simah, dari Pegunungan Ngargapura, dan dari Pegunungan Sukalila.
Di antara mereka terdapat seorang pemuda bernama Hang Anggana. Ia diceritakan sebagai tokoh andalan Angkatan Laut Keling, keturunan keenam Hang Sabura dan Dewi Simah.
Hang Anggana mengajak para pelaut dan petani membuka hutan jati. Mereka membangun tempat tinggal, menata lahan, dan membuat pelabuhan.
Bayangkan pekerjaan itu, Nak. Menebang, membersihkan tanah, mendirikan tiang rumah, lalu menunggu tanaman tumbuh. Sebuah desa terbentuk melalui kerja banyak tangan.
Perkampungan tersebut, menurut naskah, diberi nama Getas Pejaten.
Pelabuhannya dinamakan Tanjungkarang.
Di pesisirnya tumbuh beraneka tanaman pekarangan dan tanaman buah. Dari tempat yang diceritakan lahir sesudah bencana, orang-orang kembali menyusun kehidupan.
Begitulah cerita yang Bapak baca, Nak.
Nanti, kalau kau mendengar nama Getas Pejaten, Tanjungkarang, Undaan, atau Patiayam, mungkin kau akan teringat kisah ini. Kau boleh menyimpannya sebagai pintu untuk bertanya lebih jauh.
Apakah penanggalannya sesuai dengan hasil penelitian? Di mana letak tempat-tempat yang disebut? Adakah peninggalan yang masih dapat diperiksa? Bagaimana masyarakat setempat menuturkan asal-usul desanya sendiri?
Bapak senang kalau kau bertanya begitu.
Sebab mencintai tanah kelahiran juga berarti bersedia mempelajarinya dengan teliti. Kita mendengarkan cerita orang tua, mencatat nama yang hampir terlupakan, lalu mencari keterangan yang dapat meneranginya.
Dengan begitu, cerita tetap hidup, dan pengetahuan kita terus bertambah.
Catatan sumber: Tulisan ini merupakan penceritaan ulang secara bebas dari bagian naskah Sejarah Kawitane Wong Jawa lan Wong Kanung karya Mbah Guru, yang dimuat di Alang-alang Kumitir. Dialog ayah dan anak merupakan unsur penyajian yang ditambahkan. Tahun, hubungan keturunan, dan uraian perubahan bentang alam mengikuti penuturan sumber serta belum diverifikasi secara mandiri.