N U S A P I C T U R E S

Loading

Informasi

Artikel

Pelabuhan Pucangsula Tahun 390 M: Menelusuri Asal Sebuah Klaim Sejarah

Sebuah kisah lokal menyebut Dhatu Hang Sam Bandra membangun pelabuhan dan galangan kapal di pesisir Lasem pada 390 M. Dari mana kisah itu berasal, dan sejauh mana bukti yang mendukungnya?

Kisah tentang pelabuhan Pucangsula menggambarkan sebuah jaringan pesisir yang luas. Kapal-kapal dari pusat Pucangsula dikisahkan menghubungkan sejumlah banjar di pantai utara Jawa, dari Losari di wilayah Brebes hingga Tayu dan Blengon di kawasan timur. Salah satu nama yang disebut ialah Banjar Tanjungmaja, yang diidentifikasi dalam teks sebagai wilayah Kudus sekarang.

Menurut kisah tersebut, pelabuhan dan galangan kapal dibangun pada 390 M oleh Dhatu Hang Sam Bandra di sekitar Sunglon Bugel atau Gunung Bugel, sebelah selatan Dukuh Tulis, Lasem. Cerita itu menarik perhatian karena menyusun gambaran jaringan pelayaran jauh sebelum nama-nama daerah modern dikenal.

Namun, untuk memahami nilai sejarahnya, kita perlu menelusuri sumber yang pertama kali memuat kisah tersebut.

Sumber yang ditemukan: buku lokal tahun 1996

Uraian tentang pembangunan pelabuhan pada 390 M ditemukan dalam buku berbahasa Jawa berjudul Sejarah Kawitane Wong Jawa lan Wong Kanung, atas nama Mbah Guru. Buku itu menyebut penerbit Dewan Pengandhar Sabda Badra Santi di Padhepokan Argasoka. Pada bagian akhir pengantarnya tercantum tanggal 28 Juni 1996.

Di halaman tercetak 17–18, buku tersebut menyebut Dhatu Hang Sam Bandra membangun pelabuhan dan galangan kapal di Sunglon Bugel, lalu menghubungkan Pucangsula dengan Banjar Losari, Rabwan, Tugu, Purwata, Tanjungmaja, Tayu, dan Blengon. Inilah sumber tertulis yang paling dekat dengan kutipan tentang tahun 390 M dan jaringan Banjar pesisir. Baca naskah digitalnya di sini.

Kata pengantar buku itu menyebut catatan dan tuturan para leluhur serta pandhita Kanung sebagai bahan penyusunan. Karena itu, buku tersebut penting sebagai dokumentasi tradisi lokal. Tetapi tanggal kejadian dalam cerita perlu diuji secara terpisah dari usia buku yang mencatatnya.

Jejak pengutipan tidak selalu berarti bukti tambahan

Uraian serupa kemudian muncul dalam buku Sejarah Rembang. Buku itu merujuk kepada karya Mbah Guru dan buku Sigit Wibowo serta Eko Teguh Widodo, Sejarah Perjalanan Orang Jawa, halaman 60. Artinya, kemunculan kisah yang sama di beberapa buku belum tentu menunjukkan adanya beberapa sumber mandiri; buku-buku tersebut mungkin mengikuti jalur rujukan yang sama.

Ada pula perbedaan data bibliografi yang perlu diperiksa. Sejarah Rembang mencatat sumber Mbah Guru sebagai terbitan 1968, sedangkan naskah digital Sejarah Kawitane Wong Jawa lan Wong Kanung mencantumkan tanggal penyelesaian 1996. Perbedaan tahun dan kemungkinan perbedaan edisi ini sebaiknya ditelusuri melalui katalog atau koleksi Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Rembang.

Apa yang didukung kajian arkeologi?

Kajian bentanglahan arkeologi Lasem oleh Andi Putranto mencatat persebaran tinggalan arkeologi di wilayah Lasem dan membahas tradisi tentang Pucangsula. Artikel itu menyebut patung Buddha dan batu-batu besar di Desa Sriombo yang diperkirakan berkaitan dengan reruntuhan candi. Peneliti juga mencatat bahwa data arkeologi periode klasik di Lasem relatif terbatas.

Temuan tersebut memberi alasan untuk terus meneliti kawasan Lasem dan lingkungan pesisirnya. Namun, informasi yang tersedia dalam kajian itu belum menetapkan bahwa pelabuhan Pucangsula dibangun tepat pada 390 M, belum memastikan sosok Dhatu Hang Sam Bandra melalui bukti sezaman, dan belum mengonfirmasi bahwa seluruh Banjar dalam daftar tersebut berada di bawah satu pemerintahan pada masa itu.

Sumber-sumber tentang Lasem pada masa yang lebih kemudian memberikan pijakan sejarah yang berbeda. Kajian yang sama membahas Lasem dalam masa Majapahit, termasuk keterangan Nagarakretagama tentang perjalanan Raja Hayam Wuruk ke Lasem. Bukti untuk periode tersebut tidak otomatis mengesahkan kronologi Pucangsula pada abad ke-4.

Tradisi lokal sebagai awal penelitian

Cerita lisan memiliki nilai untuk merekam ingatan, identitas, dan pengetahuan masyarakat tentang tempat. Kisah Pucangsula dapat menjadi petunjuk awal untuk meneliti lokasi Sunglon Bugel, nama Palwadhak, dan kemungkinan perubahan garis pantai. Setiap petunjuk itu masih perlu dibandingkan dengan peta, toponimi, survei lapangan, temuan material, serta penanggalan arkeologis.

Daftar Banjar dalam kisah tersebut juga perlu dibaca dengan hati-hati. Daftar itu menunjukkan wilayah yang dikisahkan sebagai jaringan Pucangsula; ketiadaan nama Demak atau Grobogan di dalamnya belum cukup untuk menyimpulkan bahwa kawasan tersebut tidak berpenghuni atau tidak memiliki sejarah pada masa itu. Nama wilayah, bentuk pemerintahan, dan batas administratif modern adalah persoalan yang berbeda.