N U S A P I C T U R E S

Loading

Informasi

Artikel

Sanepa Arya Penangsang: Membaca Simbol di Balik Makam dan Tradisi Jumat Kliwon

Kudus - Jawa Tengah -Malam Jumat Kliwon di kompleks makam Arya Penangsang di Jepang, Mejobo, Kudus, kembali dipenuhi peziarah dan masyarakat yang datang untuk rutinan doa bersama. Namun di balik suasana religius dan tradisi yang terus hidup itu, tersimpan perbincangan menarik mengenai cara masyarakat Jawa membaca tokoh leluhur—bukan hanya melalui sejarah, tetapi juga melalui sanepa dan rasa.

Di sela kegiatan malam itu, penulis berbincang dengan seorang penekun keilmuan Jawa. Ia tidak berbicara mengenai sejarah dengan pendekatan akademik semata. Cara melihatnya lebih dekat pada pembacaan simbolik ala tradisi Jawa lama—di mana kisah babad, pusaka, hewan tunggangan, hingga lokasi makam dipercaya menyimpan tanda batin atau sanepa.

“Di sini itu mengandung sanepan kabeh,” ujarnya pelan.

Kalimat itu sederhana, tetapi dalam maknanya.


Dalam tradisi Jawa, sanepa bukan hanya kiasan bahasa. Ia adalah simbol, sindiran halus, atau pesan tersembunyi yang digunakan leluhur untuk menyampaikan nilai kehidupan. Oleh karena itu, banyak kisah tokoh besar Jawa tidak selalu dapat dipahami secara harfiah. Ada lapisan rasa dan makna yang dipercaya tersembunyi di balik cerita.

Gagak Rimang dan Simbol Pengendalian Diri

Salah satu yang dibahas malam itu adalah tentang Gagak Rimang, kuda legendaris Arya Penangsang. Secara sejarah populer, Gagak Rimang dikenal sebagai kendaraan perang yang gagah dan sulit ditandingi.

Namun dalam pembacaan simbolik Jawa, gambaran ini sering dimaknai lebih dalam. Warna hitam pada “gagak” dipandang sebagai lambang misteri, kekuatan batin, bahkan sisi gelap manusia. Sedangkan “rimang” oleh sebagian orang tua Jawa dimaknai sebagai keadaan samar, bingung, atau berada di antara terang dan gelap.

Dari situlah muncul tafsir bahwa Gagak Rimang bukan sekedar kuda, melainkan perlambang hawa nafsu dan tenaga besar dalam diri manusia. “Yang berbahaya bukan kudanya, tetapi siapa yang menungganginya,” demikian salah satu pitutur yang sering dikaitkan dengan simbol tersebut.

Dalam pandangan spiritual Jawa, manusia harus mampu mengendalikan tenaga dalam dirinya sendiri. Jika gagal, ia akan jatuh pada angkara. Namun jika berhasil menguasainya, tenaga itu justru menjadi jalan menuju kematangan batin.

Brongot Setan Kober dan Bara Nafsu 

Perbincangan kemudian mengarah pada pusaka legendaris bernama Brongot Setan Kober. Nama itu sendiri sudah terdengar seperti sandi budaya Jawa lama.

“Brongot” sering dimaknai sebagai simbol kejantanan, kemarahan, atau daya ledak watak lelaki. Sedangkan “Setan Kober” dipahami sebagai kobaran api yang tidak pernah selesai.

Dalam pembacaan sanepa, pusaka ini dimaknai sebagai perlambang nafsu manusia yang terus menyala. Namun uniknya, tradisi Jawa tidak selalu mengajarkan bahwa nafsu harus dimatikan. Nafsu justru harus dikenal dan dikendalikan. Sebab tanpa api, manusia tidak memiliki semangat. Tetapi ketika api terlalu besar, manusia juga dapat terbakar oleh dirinya sendiri. Oleh karena itu,sebagian penekun spiritual Jawa memaknai kisah Arya Penangsang sebagai gambaran manusia kuat yang sedang berjuang melawan bara dalam dirinya sendiri.

Usus Terburai dan Keteguhan yang Tragis

Kisah paling terkenal tentang Arya Penangsang tentu mengenai pertempuran terakhirnya—ketika ususnya terburai namun ia masih terus berjuang. Bagi masyarakat umum, kisah itu dianggap sekadar bagian dramatis dari perang kekuasaan era Demak. Namun dalam pembacaan simbolik Jawa, adegan tersebut dipercaya mengandung makna batin yang jauh lebih dalam.

Usus dalam simbol Jawa kadang dipahami sebagai pusat rasa dan keberanian manusia. Maka ketika Arya Penangsang digambarkan tetap terikat sambil mengikat ususnya sendiri dengan keris, sebagian orang Jawa membacanya sebagai simbol manusia yang tetap berjalan meskipun batinnya sebenarnya telah koyak. Sebuah perlambang tentang ambisi, harga diri, balas dendam, dan keteguhan yang bercampur menjadi satu.

Antara Sejarah dan Rasa Hingga hari ini, makam Arya Penangsang di Jepang, Mejobo, Kudus masih ramai dikunjungi masyarakat. Sebagian datang untuk berziarah, sebagian untuk mencari ketenangan,dan sebagian lagi untuk mencoba memahami jejak sejarah sekaligus rasa yang hidup di tengah masyarakat Jawa.

Bagi sebagian penekun budaya Jawa, tokoh Arya Penangsang tidak hanya dipandang sebagai tokoh politik masa lalu. Ia juga dibaca sebagai simbol tentang keberanian, kemarahan, garis keturunan, kesetiaan sendiri, dan perjuangan melawan manusia dirinya. Oleh karena itu, membaca terhadap tokoh-tokoh Jawa lama sering kali tidak berhenti pada data sejarah semata. Ada lapisan simbol, rasa, dan sanepa yang terus hidup dalam ingatan masyarakat.

Dan mungkin benar seperti ungkapan orang tua Jawa:

“Babad itu tidak hanya ditulis, tetapi juga disandikan.” 

  • Dokumentasi : Rifa'i
  • Penulis / Admin : Abu Na'am Rasyid
  • Penerbit : Nusa Pictures Indonesia