N U S A P I C T U R E S

Loading

Informasi

Artikel

Tabayyun Sejarah dan Nasab Mbah Janas Berdasarkan Manuskrip Keluarga


Kudus - Nusa Gambar Indonesia -

Di tengah masyarakat Kudus dan sekitarnya, nama Mbah Janas dikenal luas dalam tradisi tutur sebagai tokoh yang memiliki hubungan dengan lingkungan para wali dan dunia perkerisan Jawa.

Dalam sebagian riwayat lisan masyarakat serta beberapa versi Babad Tanah Jawi, beliau disebut sebagai empu keris Sunan Kudus, ada yang menyebut empu keris Sunan Muria, bahkan dikisahkan hidup sezaman dengan para tokoh Walisongo seperti Sunan Bonang, Sunan Muria, dan Sunan Kalijaga.

Namun berdasarkan syarah Manuskrip Donorejo, Manuskrip Bani Kertowongso, serta hasil kajian dan penelusuran lapangan LP3SN–NAAT Jawa Tengah dan LP3SN–NAAT Kudus, ditemukan data genealogis yang menunjukkan bahwa posisi sejarah Mbah Janas berada beberapa generasi setelah era Walisongo.

Dalam Syarah Manuskrip Donorejo disebutkan bahwa Pangeran Janas atau Mbah Janas adalah putra Pangeran Jekulo, putra Ki Ageng Bangsri, putra Panembahan Suro Agung, putra Syekh Amir Hasan (Sunan Nyamplungan), putra Syekh Ja'far Shodiq Sunan Kudus hasil pernikahannya dengan Dewi Rukhil, putri Sunan Bonang.

Dalam syarah manuskrip tersebut juga dijelaskan bahwa Mbah Janas bersaudara dengan Pangeran Jenar yang makamnya berada di wilayah Batang, Jawa Tengah.

Berdasarkan hasil kajian dan penelusuran lapangan LP3SN–NAAT Jawa Tengah, Pangeran Jekulo diketahui sebagai Syekh Abdul Jalil, yang makamnya berada bersebelahan dengan Makam Syekh Abdul Qohar di wilayah Jekulo, Kudus.

Sementara itu, dalam Syarah Manuskrip Donorejo disebutkan bahwa Pangeran Janas memiliki putra bernama Kiai Joyotukul.

Berdasarkan Manuskrip Bani Kertowongso, garis keturunan tersebut tersambung kepada Kiai Prayitno, kemudian Mbah Buyeng, kemudian Kertokasman, kemudian Kertokusumo, hingga Kertowongso.

Di dalam Manuskrip Bani Kertowongso juga dijelaskan bahwa Kertowongso pernah memiliki istri sembilan. Dari sembilan pernikahan tersebut, sebagian garis keturunannya diketahui secara jelas, sementara sebagian lainnya belum diketahui secara lengkap.

Menariknya, dalam Manuskrip Bani Kertowongso juga disebutkan nama daging Pangeran Janas, yaitu Abdussyukur bin Abdul Jalil bin Kiai Anwar bin Ali Qosim bin Amir Hasan bin Ja'far Shodiq Sunan Kudus.

Selain itu, berdasarkan penelusuran keluarga dan data lapangan, di wilayah Damaran, Kudus, masih terdapat beberapa keluarga yang memiliki hubungan keturunan dengan Mbah Janas, baik melalui jalur langsung keturunan Pangeran Janas maupun melalui jalur leluhur di atasnya, yaitu jalur Ki Ageng Bangsri.  Hal ini menunjukkan bahwa jalur keluarga tersebut masih hidup dan dikenal dalam lingkungan masyarakat hingga sekarang.

Data manuskrip tersebut menunjukkan bahwa Mbah Janas berada dalam garis keturunan Sunan Kudus melalui Syekh Amir Hasan atau Sunan Nyamplungan. Dengan posisi beberapa generasi setelah era Walisongo, maka riwayat yang menyebut Mbah Janas hidup sezaman dengan para wali perlu ditinjau kembali secara historis.

Secara genealogis,hal tersebut juga menunjukkan bahwa riwayat yang menyebut Mbah Janas sebagai pamomong putra Sunan Kudus menjadi sulit dilestarikan secara kronologis, karena posisi generasi dia berada setelah masa para wali tersebut.

Mengenai penyebutan beliau sebagai empu keris, hingga saat ini belum ditemukan sumber primer yang secara kuat menjelaskan aktivitas keempuan beliau selain riwayat tradisi tutur dan sebagian versi Babad Tanah Jawi.

Nama “Keris Janas Kudus” juga belum ditemukan dalam daftar pusaka besar Nusantara yang selama ini dikenal dalam sastra perkerisan Jawa.

Tabayyun tidak dimaksudkan untuk mengurangi rasa hormat masyarakat kepada Mbah Janas, melainkan sebagai upaya menjaga keakuratan sejarah dan nasab berdasarkan manuskrip keluarga, data genealogis, dan penelitian lapangan yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Desk Nasional : Nusa Pictures Indonesia

Foto : Nusa Gambar Indonesia