N U S A P I C T U R E S

Loading

Informasi

Artikel

Tawassul di Makam Nyai Hamdanah Asnawi Kudus: Ikhtiar Menjemput Jodoh


Kudus - Di tengah masyarakat Kudus, terdapat sebuah amalan yang cukup dikenal, khususnya bagi mereka yang sedang mengikhtiarkan jodoh.  Salah satu ijazah yang pernah disampaikan oleh KH. Maimun Zubair bertawassul di makam Nyai Hamdanah Asnawi Kudus.

Menurut beliau, salah satu keberkahan Kota Kudus terletak pada pernikahan antara Kyai Asnawi Kudus dengan Nyai Hamdanah. Oleh karena itu, sebagian masyarakat meyakini bahwa bertawassul di Makam Nyai Hamdanah dapat menjadi bagian dari ikhtiar batin dalam memohon kemudahan jodoh kepada Allah SWT.

Makam Nyai Hamdanah berada di kompleks makam Masjid Menara Kudus, tepatnya di sebelah barat makam Kyai Asnawi Kudus, di area belakang mihrab Masjid Al-Aqsha Menara Kudus.

Nyai Hamdanah sendiri dikenal sebagai istri dari Kyai Asnawi Kudus, salah satu ulama penting dalam sejarah lahirnya organisasi Nahdlatul Ulama.

Menurut penuturan Kyai Minan Zuhri, Nyai Hamdanah merupakan putri dari Kyai Sholeh Darat. Ia sebelumnya dipersunting oleh Syekh Nawawi al-Bantani, sahabat dekat yang sama-sama pernah berguru kepada Sayyid Ahmad Zaini Dahlan ketika berada di Haramain.

Setelah wafatnya Syekh Nawawi, Nyai Hamdanah kemudian dinikahi oleh Kyai Asnawi Kudus atas perjodohan KH. Jalil.

Tradisi tawassul ini terus hidup di tengah masyarakat. Banyak yang datang dengan membawa harapan dan doa terbaiknya.

Salah satu kisah yang sering diceritakan adalah tentang seseorang yang gagal menikah setelah calon yang telah dikhitbah tiba-tiba membatalkan pernikahan. Dalam kondisi sedih, ia meminta nasihat kepada gurunya. Sang guru kemudian teringat ijazah dari KH. Maimun Zubair agar bertawassul di makam Nyai Hamdanah sebagai bagian dari ikhtiar memohon kemudahan jodoh kepada Allah SWT. Tidak lama berselang, orang tersebut dipertemukan dengan pasangan yang kemudian menjadi pendamping hidupnya.

Dalam tradisi masyarakat, tawassul biasanya dilakukan dengan membaca Surah Yasin, tahlil, serta doa-doa kepada Allah SWT.

Pada hakikatnya, jodoh sebagaimana rezeki merupakan ketetapan Allah SWT. Namun manusia tetap diperintahkan untuk berikhtiar lahir dan batin. Serupa rezeki tidak datang tanpa usaha, demikian pula jodoh memerlukan ikhtiar, doa, dan kesungguhan hati.

Tawassul dalam hal ini dipahami sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui orang-orang saleh yang dicintai-Nya.

Disusun ulang oleh : Abu Na'am Rasyid. Sumber asal : Facebook