Loading

Oleh: Abu Naam Rasyid
Ketua DPC NAAT Kudus
Nama Tembalang di Kota Semarang selama ini kerap dikaitkan dengan kisah “Tambal Ilang” yang berkembang dalam folklor masyarakat Jawa.
Bahkan sebagian cerita rakyat menghubungkannya dengan era dakwah Islam dan tokoh-tokoh tertentu di tanah Jawa.
Namun benarkah asal - usul Tembalang itu?
Dalam kajian yang disampaikan Gus Islah selaku Ketua LP3SN NAAT Jawa Tengah, terdapat pandangan menarik bahwa Tembalang kemungkinan memiliki akar sejarah yang jauh lebih tua, bahkan berkaitan dengan perpindahan pusat kekuasaan Mataram Kuno pada masa Mpu Sindok.
Pandangan ini tentu membuka ruang diskusi baru dalam melihat sejarah toponimi di Pulau Jawa.
Perpindahan Mataram Kuno
Sejarah mencatat bahwa pada abad ke-10, Mpu Sindok memindahkan pusat kekuasaan Mataram dari Jawa Tengah menuju Jawa Timur.
Peristiwa tersebut sering dikaitkan dengan tekanan geopolitik dari Sriwijaya maupun faktor alam yang mempengaruhi stabilitas kerajaan saat itu.
Jejak kemenangan politik Mpu Sindok dikenal melalui Prasasti Anjuk Ladang yang juga berkaitan dengan pembangunan Candi Lor atau Candi Boto di wilayah Nganjuk.
Dalam konteks inilah muncul dugaan bahwa perpindahan pusat kekuasaan tidak hanya memindahkan pemerintahan, tetapi juga membawa nama-nama wilayah lama ke kawasan baru di Jawa Timur.
Tembalang dan Tembelang
Nama Tembalang di Semarang memiliki kemiripan yang cukup mencolok dengan nama Kecamatan Tembelang di Jombang.
Menurut Gus Islah, kemungkinan hubungan historis kedua nama tersebut tidak dapat langsung diabaikan begitu saja.
Dalam tradisi bahasa Jawa, perubahan bunyi seperti “ang” menjadi “eng” merupakan hal yang lazim terjadi dalam perkembangan dialek masyarakat dari masa ke masa. Hipotesis ini memunculkan dugaan bahwa Tembelang di Jawa Timur bisa saja merupakan kelanjutan nama wilayah lama yang telah ada sebelumnya di Jawa Tengah.
Tentu saja, pandangan ini masih memerlukan penelitian yang lebih mendalam melalui pendekatan arkeologi, linguistik historis, filologi, maupun kajian prasasti.
Namun setidaknya, pendekatan tersebut membuka ruang pemikiran baru mengenai sejarah kawasan-kawasan tua di Jawa.
Folklor dan Sejarah Cerita “Tambal Ilang” sendiri lebih tepat dipahami sebagai folklor atau etimologi rakyat.
Tradisi seperti ini banyak ditemukan di berbagai daerah di Jawa sebagai cara masyarakat menjelaskan nama tempat melalui kisah simbolik dan tuturan turun-temurun.
Folklor memiliki nilai budaya yang penting, namun tidak selalu identik dengan fakta sejarah.
Oleh karena itu, membedakan antara cerita rakyat dan kajian sejarah berbasis sumber primer menjadi hal yang penting agar lapisan sejarah Jawa tidak tercampur menjadi satu.
Jawa dan Lapisan Peradaban
Pulau Jawa memiliki sejarah panjang yang tersusun dari berbagai lapisan peradaban :
era Hindu-Buddha,
Majapahit,
Islam,
kolonial,
hingga Indonesia modern.
Tidak semua wilayah tua di Jawa dapat langsung terhubung dengan era Walisongo ataupun tradisi Islam lokal yang berkembang belakangan.
Dari sudut pandang inilah, Tembalang mungkin menyimpan jejak sejarah yang lebih tua dari yang selama ini dikenal.
Kajian semacam ini penting bukan untuk meniadakan tradisi yang telah hidup di tengah masyarakat, melainkan untuk membuka kembali ruang diskusi masyarakat sejarah secara lebih luas, kritis, dan berimbang.
Karena sejarah Jawa pada dasarnya bukanlah sejarah satu zaman, melainkan tumpukan panjang peradaban yang saling meninggalkan jejak hingga hari ini.