Loading
Dari Malaysia ke Kudus, Kekeluargaan Syekh Jumadil Kubra dan NAAT Jawa Tengah Merajut Kembali Sejarah, Nasab, dan Persaudaraan
KUDUS — Di bawah rindangnya pepohonan dan atap sederhana yang menaungi Situs Makam Arya Penangsang di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kudus, sebuah pertemuan berlangsung pada Senin, 14 September 2026.
Tidak ada panggung besar. Tidak ada jarak antara tamu dan tuan rumah. Mereka duduk bersama di atas tikar, berbicara tentang leluhur, keluarga, sejarah, dakwah, serta sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar silsilah: amanah untuk meneruskan nilai-nilai yang diwariskan generasi sebelumnya.
Hari itu, Keluarga Besar Syekh Jumadil Kubra, yang salah satunya diwakili oleh Akhi Ghozali dari Malaysia, berkunjung dan bertemu dengan keluarga besar Naqobah Ansab Auliya Tis'ah (NAAT) Jawa Tengah.
Pertemuan berlangsung di sebuah tempat yang juga menyimpan lapisan sejarah panjang: Situs Makam Arya Penangsang, Jepang, Mejobo, Kudus.
Indonesia dan Malaysia hari ini berdiri sebagai dua negara modern. Namun jauh sebelum batas-batas politik itu terbentuk, masyarakat di kawasan Nusantara telah dihubungkan oleh jalur perdagangan, bahasa, keilmuan, pesantren, kerajaan, perkawinan, dakwah, dan hubungan antarkeluarga.
Jaringan ulama bahkan bergerak lebih bebas daripada peta negara yang kita kenal sekarang.
Karena itulah kehadiran perwakilan Kekeluargaan Syekh Jumadil Kubra dari Malaysia di Kudus terasa memiliki makna tersendiri.
Ia seperti membuka kembali sebuah halaman lama yang sebenarnya tidak pernah benar-benar selesai ditulis.
Syekh Jumadil Kubra merupakan nama yang sangat dikenal dalam berbagai tradisi sejarah dan genealogis Islam Nusantara. Dari jaringan keluarga dan penerusnya, berkembang berbagai jalur ulama, pemimpin, pendakwah, dan keluarga yang kemudian tersebar ke sejumlah kawasan Asia Tenggara.
Pertemuan di Kudus mencoba membawa hubungan tersebut keluar dari lembar silsilah dan kembali menjadi hubungan antarmanusia yang hidup.
Dalam dialog bersama keluarga besar NAAT Jawa Tengah, pembicaraan tidak berhenti pada pertanyaan klasik mengenai nasab.
Justru muncul pertanyaan yang lebih penting:
Setelah mengetahui siapa leluhur kita, lalu apa yang harus dilakukan oleh generasi sekarang?
Akhi Ghozali dari Malaysia menjelaskan gagasan mengenai dasar dan pedoman gerak Kekeluargaan Syekh Jumadil Kubra.
Menurutnya, sebuah jaringan keluarga tidak cukup hanya mempunyai struktur organisasi. Yang lebih dahulu harus dibangun adalah manusia: cara berpikirnya, spiritualitasnya, hubungan dengan Allah dan Rasulullah SAW, ilmu, akhlak, serta kemampuannya memberi manfaat kepada masyarakat.
Dari pribadi, pembinaan bergerak menuju keluarga. Dari keluarga menuju masyarakat. Kemudian tumbuh jaringan yang saling terhubung.
Dengan pendekatan seperti itu, nasab tidak ditempatkan sebagai simbol kebanggaan.
Nasab justru dipandang sebagai amanah.
Hal menarik lainnya adalah gagasan bahwa jaringan Kekeluargaan Syekh Jumadil Kubra tidak harus diwujudkan dalam satu organisasi tunggal yang seragam.
Indonesia memiliki kondisi sosial sendiri. Malaysia memiliki karakter berbeda. Demikian pula wilayah-wilayah lain di Nusantara.
Karena itu, setiap daerah dapat memilih bentuk gerakan dan kelembagaan sesuai kebutuhan masyarakat setempat.
Yang dipertemukan bukan seragam organisasinya, melainkan nilai dasarnya: keilmuan, spiritualitas, persaudaraan, dakwah, kepemimpinan, dan khidmat.
Dengan demikian, organisasi yang telah ada tidak harus kehilangan identitasnya.
NAAT tetap dapat menjalankan perannya sebagai NAAT.
Lembaga pendidikan tetap bergerak di pendidikan. Peneliti bekerja melalui penelitian. Ulama melalui ilmu dan dakwah. Pengusaha dapat berkhidmat melalui penguatan ekonomi.
Berbeda jalan kerja, tetapi dapat bertemu dalam tujuan yang sama.
Ada sesuatu yang menarik ketika dialog semacam ini berlangsung justru di sebuah makam.
Situs sejarah sering dipahami sebagai tempat untuk melihat masa lalu.
Namun pada sore itu, Situs Makam Arya Penangsang justru menjadi tempat membicarakan masa depan.
Di antara makam, pepohonan, tikar, buku, gelas minuman, dan percakapan sederhana, sejarah tidak hadir sebagai benda mati.
Ia berubah menjadi ingatan kolektif.
Orang-orang dari latar berbeda duduk dalam satu lingkaran, mendengarkan kisah keluarga, mencatat gagasan, membandingkan pengalaman, dan membicarakan kemungkinan kerja bersama.
Di titik seperti inilah sebuah situs sejarah memperoleh kehidupan baru.
Bukan hanya untuk dikunjungi.
Tetapi untuk menghubungkan manusia kembali dengan akar sejarahnya.
Menjelang akhir rangkaian kegiatan, berlangsung sebuah momen simbolik.
Ketua DPC NAAT Kudus Abu Na'am Rasyid menerima Sekalung Penghargaan dari Keluarga Besar Syekh Jumadil Kubra.
Penghargaan tersebut diserahkan oleh Akhi Ghozali sebagai perwakilan dari Malaysia di kawasan Situs Makam Arya Penangsang.
Momen itu sekaligus menjadi simbol hubungan yang semakin dekat antara jaringan Kekeluargaan Syekh Jumadil Kubra dan keluarga besar NAAT di Jawa Tengah, khususnya Kudus.
Dalam dokumentasi pertemuan tersebut, sejumlah peserta tampak duduk bersama secara sederhana. Tidak ada sekat protokoler yang menonjol.
Justru kesederhanaan itulah yang memperlihatkan watak pertemuan tersebut: keluarga sedang bertemu keluarga.
Bagi Nusa Pictures Indonesia, peristiwa seperti ini menarik bukan hanya karena nilai beritanya.
Di dalamnya terdapat sebuah cerita yang jauh lebih luas.
Tentang keluarga yang tercerai oleh waktu.
Tentang manuskrip dan silsilah yang mencoba menyambungkan kembali mata rantai.
Tentang situs-situs tua yang masih menyimpan ingatan.
Tentang manusia modern yang berusaha memahami siapa dirinya dengan melihat perjalanan generasi sebelumnya.
Dan pada akhirnya, sejarah bukanlah sekadar cerita tentang orang-orang yang telah meninggal.
Sejarah berbicara mengenai orang yang masih hidup.
Mengenai keputusan mereka hari ini.
Mengenai warisan apa yang kelak mereka tinggalkan kepada generasi selanjutnya.
Dari sebuah sudut kecil di Desa Jepang, Kudus, pertemuan itu membawa pesan yang sederhana:
menemukan leluhur adalah awal. Memahami amanahnya adalah perjalanan berikutnya.
Nusa Pictures Indonesia
Cerita • Sejarah • Budaya • Sinema